Iklan Billboard 970x250

China Perintahkan Hapus Logo "Halal", Untuk Mencegah Budaya Luar Berkembang

China Perintahkan Hapus Logo "Halal", Untuk Mencegah Budaya Luar Berkembang


Mastermilitery.com - Pihak berwenang China dilaporkan telah memerintahkan restoran dan kedai makanan untuk menghapus logo halal dalam bahasa Arab dan simbol-simbol lain yang terkait dengan Islam. Hal itu merupakan upaya pemerintah untuk memperkuat identitas China di negara tersebut. Lalu bagaimana cara membedakan tempat makan halal dan nonhalal?, apakah benar warga muslim mendapat perlakuan diskriminasi di China?.



Kampanye melarang simbol dan logo yang ditulis dalam bahasa arab menandai fase baru dari upaya pemerintah, untuk memperkuat budaya China dari berbagai sisi termasuk agama. Kampanye tersebut juga mencakup penghapusan kubah gaya Timur Tengah di masjid-masjid yang ada di China, dan menggantinya dengan bangunan Pagoda.

Seorang manajer di sebuah restoran yang masih memajang logo halal dalam bahas arab mengatakan, dia telah diperintahkan untuk menghapus logo tersebut. Sementara, beberapa toko besar lainya telah mengganti logo halal dalam bahasa arab menjadi tulisan "qing zhen" yang artinya halal dalam bahasa China. Sementar restoran lainnya memilih untuk menutupi logo halal dengan selotip atau stiker.

Sebagian besar pemilik toko mengaku, mereka tidak keberatan untuk mengganti logo halal tersebut. Namun, hal itu akan membingungkan pelanggan dan karyawan di toko daging halal, yang menuding pihak berwenang telah menghapus budaya Muslim. Komisi Urusan Etnis dan Agama pada pemerintah Beijing menolak berkomentar mengenai hal ini. Hanya disebutkan bahwa perintah menyangkut restoran halal merupakan arahan nasional.

China merupakan rumah bagi 20 juta umat Muslim dan secara resmi menjamin kebebasan beragama. Namun, kampanye pemerintah tersebut telah membawa agama agar sejalan dengan ideologi Partai Komunis. Selain umat Muslim, pihak berwenang China juga telah menutup dan menghancurkan gereja yang dianggap ilegal.


Para analis mengatakan, Partai Komunis khawatir bahwa pengaruh asing dapat membuat kelompok agama sulit dikendalikan. Seorang antropolog di Universitas Washington Darren Byler mengatakan, bahasa arab dipandang sebagai bahasa asing  serta sesuatu yang berada di luar kendali pemerintah China.

Sementara itu, Kelly Hammond, seorang asisten profesor di University of Arkansas yang mempelajari Muslim minoritas Hui di China mengatakan, langkah-langkah melarang simbol atau logo agama dalam bahasa asing merupakan bagian dari upaya untuk menciptakan era new normal atau kenormalan baru.
Umat Islam di China mendapatkan perhatian khusus sejak kerusuhan pada 2009, yang melibatkan sebagian besar Muslim Uighur dan mayoritas etnis China Han di wilayah paling barat Xinjiang. China menghadapi kritik keras dari negara-negara Barat dan kelompok hak asasi manusia atas kebijakannya, terutama terkait penahanan massal dan pengawasan terhadap warga Uighur dan Muslim lainnya. Pemerintah China mengatakan, kebijakan mereka di Xinjiang diperlukan untuk membasmi ekstremisme agama.


Baca Juga
SHARE
Subscribe to get free updates

Related Posts

Post a Comment

Iklan Tengah Post